Thoughts9 min read

Surrounded by Idiots: Memahami 4 Warna Perilaku agar Komunikasi Tim Lebih Lancar

Ringkasan buku Surrounded by Idiots karya Thomas Erikson: memahami empat warna perilaku DISC (Merah, Kuning, Hijau, Biru), cara berkomunikasi dan memberi feedback ke setiap warna, serta catatan kritis agar tidak menjadikannya label.

Surrounded by Idiots karya Thomas Erikson menjelaskan bahwa orang yang terasa "sulit diajak bicara" sering kali bukan bodoh, tetapi punya gaya perilaku yang berbeda. Buku ini memakai model DISC yang dibagi menjadi empat warna: Merah, Kuning, Hijau, dan Biru. Dengan memahami warna orang lain, kita bisa menyesuaikan cara bicara, memberi feedback, dan bekerja sama tanpa banyak salah paham.

Pernah merasa satu tim isinya orang yang "nggak nyambung" semua? Client maunya serba cepat dan langsung ke inti. Designer semangat lempar ide baru di tengah sprint. Rekan developer minta detail sampai ke edge case terkecil. Sementara satu orang lagi diam saja di meeting, lalu ternyata tidak setuju dengan keputusan yang sudah dibuat.

Kalau semua terasa salah, ada kemungkinan masalahnya bukan di mereka. Bisa jadi cara kita berkomunikasi yang tidak cocok dengan cara mereka menerima informasi. (Pembahasan soal pola pikir dalam menghadapi masalah juga ada di Pintar, Bodoh, atau Bebal? Membedah Tiga Pola Pikir dalam Menghadapi Masalah.)

Itulah inti dari buku Surrounded by Idiots karya Thomas Erikson.

A two-axis map placing Red, Yellow, Green, and Blue behavior styles by task or people focus and by outgoing or reserved pace
Empat warna DISC dipetakan dari dua sumbu: fokus pada tugas atau orang, dan tempo yang ekspresif atau tenang.

Tentang Buku Ini

Thomas Erikson adalah konsultan dan penulis asal Swedia yang banyak bekerja di bidang komunikasi dan perilaku di tempat kerja. Bukunya pertama kali terbit di Swedia dengan judul Omgiven av idioter, lalu menjadi bestseller internasional.

Judulnya datang dari sebuah cerita. Erikson pernah bertemu seorang pria bernama Sture yang yakin dirinya dikelilingi orang bodoh di kantor. Semakin lama Erikson mendengarkan, semakin jelas bahwa masalahnya bukan orang-orang di sekitar Sture. Masalahnya adalah Sture tidak paham kenapa orang lain berpikir dan bereaksi berbeda darinya.

Dari situ, Erikson memakai model DISC sebagai kerangka. Model ini berakar dari karya psikolog William Moulton Marston di akhir 1920-an, yang membagi perilaku manusia ke dalam empat kecenderungan utama. Erikson menyederhanakannya dengan empat warna supaya lebih mudah diingat.

Dua Sumbu di Balik Empat Warna

Sebelum masuk ke warna, ada dua pertanyaan sederhana yang membentuk modelnya:

  • Apakah seseorang lebih fokus pada tugas atau pada orang?
  • Apakah seseorang lebih ekspresif dan cepat, atau lebih tenang dan menahan diri?

Kombinasi dua sumbu ini menghasilkan empat gaya perilaku:

Fokus tugas + ekspresif   = Merah
Fokus orang + ekspresif   = Kuning
Fokus orang + tenang      = Hijau
Fokus tugas + tenang      = Biru

Ini membantu menjelaskan kenapa dua orang bisa sama-sama "fokus kerja", tapi cara kerjanya bertolak belakang. Merah dan Biru sama-sama peduli pada tugas, tapi Merah ingin cepat selesai, sedangkan Biru ingin benar dulu.

Empat Warna Perilaku

Merah: Dominan

Merah adalah orang yang berorientasi pada hasil. Mereka cepat mengambil keputusan, suka tantangan, dan tidak takut konflik.

Kekuatan Merah:

  • tegas dan cepat bergerak
  • berani mengambil risiko
  • fokus pada target dan hasil akhir
  • nyaman memimpin dalam situasi sulit

Kelemahan Merah:

  • tidak sabar
  • bisa terkesan arogan atau kasar
  • kurang mendengarkan
  • sering mengabaikan perasaan orang lain demi kecepatan

Di project web, Merah sering muncul sebagai client atau owner yang bertanya, "Jadi kapan live?" sebelum kamu selesai menjelaskan kendala teknis.

Cara berkomunikasi dengan Merah: langsung ke inti, bawa opsi beserta dampaknya, lalu biarkan mereka memutuskan. Jangan bertele-tele dan jangan membuka dengan cerita panjang.

Kuning: Inspiratif

Kuning adalah orang yang energinya datang dari interaksi. Mereka antusias, kreatif, dan pandai membuat suasana jadi hidup.

Kekuatan Kuning:

  • optimis dan mudah menular semangatnya
  • kreatif dan cepat melahirkan ide
  • pandai membangun relasi
  • persuasif saat presentasi atau pitching

Kelemahan Kuning:

  • mudah kehilangan fokus
  • sering lupa detail
  • kurang konsisten menyelesaikan hal yang dimulai
  • cenderung banyak bicara dan kurang mendengar

Di tim, Kuning bisa jadi orang yang paling semangat di kickoff meeting dan melempar sepuluh ide fitur baru, tapi lupa mengisi task di board.

Cara berkomunikasi dengan Kuning: beri ruang untuk ide dan antusiasme mereka, tunjukkan apresiasi, lalu bantu mengubah ide menjadi langkah konkret. Hindari langsung menolak dengan daftar angka dan detail yang membosankan.

Hijau: Stabil

Hijau adalah orang yang menjaga harmoni. Mereka sabar, setia, dan biasanya menjadi pendengar terbaik di tim.

Kekuatan Hijau:

  • tenang dan bisa diandalkan
  • peduli pada orang lain
  • loyal dan konsisten
  • membuat suasana tim terasa aman

Kelemahan Hijau:

  • menghindari konflik
  • sulit menerima perubahan mendadak
  • jarang mengungkapkan ketidaksetujuan secara terbuka
  • bisa terlihat setuju padahal sebenarnya tidak

Bagian terakhir ini penting. Hijau bisa mengangguk di meeting, lalu tidak menjalankan keputusan itu dengan sepenuh hati karena sejak awal merasa tidak nyaman.

Cara berkomunikasi dengan Hijau: jangan menekan, beri waktu sebelum meminta keputusan, jelaskan alasan di balik perubahan, dan tanyakan pendapat mereka secara personal, bukan di depan forum besar.

Biru: Analitis

Biru adalah orang yang menghargai ketepatan. Mereka teliti, logis, dan ingin memahami sesuatu secara menyeluruh sebelum bertindak.

Kekuatan Biru:

  • detail dan teliti
  • sistematis dan terstruktur
  • kualitas kerjanya tinggi
  • kritis terhadap risiko

Kelemahan Biru:

  • lambat mengambil keputusan
  • bisa terlalu perfeksionis
  • terkesan dingin atau terlalu kritis
  • sulit bergerak kalau datanya belum lengkap

Banyak developer, QA, dan engineer punya sisi Biru yang kuat. Mereka yang bertanya, "Kalau input-nya kosong gimana?" saat semua orang sudah siap merilis fitur. (Kecenderungan menunda karena ingin semuanya sempurna dibahas lebih jauh di Terjebak Overthinking? Kenali Analysis Paralysis.)

Cara berkomunikasi dengan Biru: siapkan data, dokumentasi, dan alasan yang logis. Beri mereka waktu membaca sebelum diskusi. Jangan memakai klaim berlebihan tanpa bukti.

Ringkasan Empat Warna

WarnaFokus UtamaKekuatanCara Mendekati
MerahHasil dan kecepatanTegas, berani, cepat memutuskan.Langsung ke inti, bawa opsi dan dampaknya.
KuningIde dan relasiKreatif, antusias, persuasif.Beri ruang untuk ide, lalu bantu jadi langkah konkret.
HijauHarmoni dan keamananSabar, loyal, pendengar yang baik.Jangan menekan, beri waktu, tanyakan secara personal.
BiruAkurasi dan kualitasTeliti, logis, sistematis.Bawa data dan detail, beri waktu untuk menganalisis.

Hampir Semua Orang Adalah Kombinasi

Salah satu poin yang sering terlewat: orang jarang benar-benar hanya punya satu warna.

Kebanyakan orang punya satu atau dua warna yang dominan. Misalnya Merah-Kuning yang cepat dan karismatik, atau Biru-Hijau yang tenang dan sangat teliti. Warna juga bisa terlihat berbeda tergantung konteks, misalnya seseorang lebih Merah di kantor tapi lebih Hijau di rumah.

Jadi tujuannya bukan memasukkan orang ke satu kotak. Tujuannya mengenali kecenderungan, supaya kita tahu pendekatan mana yang lebih mungkin berhasil.

Komunikasi Terjadi di Sisi Pendengar

Ini menurut saya pesan paling penting dari buku ini.

Kita sering berpikir komunikasi berhasil kalau kita sudah menjelaskan dengan jelas. Padahal yang menentukan berhasil atau tidaknya adalah bagaimana pesan itu diterima.

Note

Pesan yang sama bisa diterima dengan sangat berbeda. Penjelasan detail yang terasa profesional bagi Biru bisa terasa membuang waktu bagi Merah. Kalimat singkat yang efisien bagi Merah bisa terasa dingin dan menyakitkan bagi Hijau.

Artinya, kalau ingin dipahami, kita yang perlu menyesuaikan cara menyampaikan. Bukan berarti kita berpura-pura menjadi orang lain. Kita hanya memilih "bahasa" yang paling mudah diterima lawan bicara.

Saat Stres, Warna Asli Keluar

Dalam kondisi normal, orang bisa cukup fleksibel. Tapi saat deadline mepet, ada bug di production, atau konflik di tim, reaksi alaminya biasanya lebih terlihat.

WarnaReaksi Saat StresYang Membantu
MerahMakin agresif, memerintah, dan tidak mau mendengar.Beri ruang untuk bertindak dan fokus pada solusi.
KuningMenyalahkan orang lain, emosional, atau jadi dramatis.Akui perasaannya dan bantu kembali ke prioritas.
HijauMenarik diri, diam, dan menjadi keras kepala secara pasif.Ciptakan rasa aman dan jangan memaksa keputusan cepat.
BiruMakin kritis, menutup diri, dan tenggelam dalam detail.Beri informasi yang jelas dan waktu untuk memproses.

Memahami pola ini membantu kita tidak membalas reaksi stres dengan reaksi stres juga.

Cara Memberi Feedback ke Setiap Warna

Memberi feedback adalah salah satu momen yang paling sering salah. Buku ini memberi pendekatan yang berbeda untuk setiap warna:

  • Merah: sampaikan langsung dan faktual. Mereka biasanya tidak keberatan dengan kritik yang lugas, tapi siap-siap mereka akan membantah.
  • Kuning: sampaikan secara privat dan mulai dari hal positif. Kuning sering menerima kritik secara personal, jadi hindari mempermalukan mereka di depan orang lain.
  • Hijau: sampaikan dengan lembut dan pastikan mereka benar-benar paham. Tanyakan kembali, karena Hijau jarang mengatakan "saya tidak setuju" secara langsung.
  • Biru: sampaikan dengan spesifik, sertakan contoh dan bukti. Kritik yang samar seperti "kurang bagus" akan langsung dipertanyakan.

(Teknik feedback dan coaching dalam kepemimpinan juga dibahas di Leadership Bukan Bakat, Tapi Keterampilan.)

Contoh di Project Website

Bayangkan tim harus menyampaikan bahwa sebuah fitur tidak bisa selesai sesuai jadwal karena integrasi payment gateway butuh waktu tambahan.

Isi pesannya sama. Tapi cara menyampaikannya bisa disesuaikan.

Ke client yang Merah:

Fitur payment mundur 1 minggu. Ada dua opsi:
A. Live sesuai jadwal tanpa payment, payment menyusul.
B. Live mundur 1 minggu dengan payment lengkap.
Rekomendasi kami opsi A. Mana yang dipilih?

Ke designer yang Kuning:

Kabar baiknya, flow checkout yang kamu desain sudah jalan dan hasilnya keren.
Ada satu kendala di payment gateway, jadi fitur ini mundur sekitar seminggu.
Yuk kita pikirkan bareng gimana halaman sementaranya tetap menarik.

Ke rekan tim yang Hijau:

Ada perubahan jadwal di fitur payment, mundur sekitar seminggu.
Task kamu yang lain tetap aman, nggak ada yang perlu dikejar mendadak.
Kalau ada yang bikin kamu kurang nyaman dengan perubahan ini, kabari saya ya.

Ke developer yang Biru:

Payment mundur 1 minggu karena sandbox gateway butuh verifikasi merchant
(estimasi 3-5 hari kerja) dan webhook signature perlu diuji ulang.
Detail kendala, log error, dan rencana testing ada di dokumen ini.

Faktanya tidak berubah. Yang berubah hanya urutan, nada, dan level detail.

Catatan Kritis: Jangan Jadikan Label

Buku ini sangat populer, tapi perlu dibaca dengan kritis.

Model DISC tidak punya dukungan ilmiah sekuat model kepribadian seperti Big Five, yang lebih banyak dipakai dalam riset psikologi. Di Swedia sendiri, buku Erikson cukup banyak dikritik karena dianggap menyederhanakan kepribadian manusia secara berlebihan.

Jadi ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari:

  • Menjadikan warna sebagai alasan. "Saya memang Merah, jadi wajar kalau kasar" bukan sikap yang sehat.
  • Melabeli orang secara permanen. Orang berkembang, dan perilaku sangat dipengaruhi situasi.
  • Menganggap semua konflik selesai dengan warna. Kadang masalahnya memang beban kerja, proses yang buruk, atau keputusan yang tidak jelas. (Untuk masalah keputusan tim, coba lihat Framework DACI.)

Cara terbaik memakai buku ini adalah sebagai alat bantu komunikasi, bukan sebagai tes kepribadian ilmiah. Ia memberi kita bahasa sederhana untuk berkata, "Oh, mungkin dia bukan menyebalkan. Mungkin dia hanya butuh pendekatan yang berbeda." (Sisi psikologis dalam pekerjaan developer juga dibahas di Antara Logika dan Jiwa.)

Template Sederhana Sebelum Berkomunikasi

Sebelum menyampaikan hal penting, terutama kabar buruk atau feedback, kamu bisa memakai pertanyaan singkat ini:

Lawan bicara:
Siapa yang akan menerima pesan ini?

Kecenderungan warna:
Merah / Kuning / Hijau / Biru / kombinasi?

Yang paling mereka pedulikan:
Hasil / ide dan relasi / rasa aman / akurasi?

Format yang cocok:
Singkat dan langsung / hangat dan visual / personal dan pelan / detail dan tertulis?

Risiko salah paham:
Apa yang bisa membuat pesan ini diterima dengan salah?

Tidak perlu dipakai untuk semua obrolan. Cukup untuk percakapan yang dampaknya besar.

Penutup

Surrounded by Idiots mengingatkan bahwa rasa frustrasi terhadap orang lain sering datang dari perbedaan cara berpikir, bukan dari kebodohan.

Merah ingin hasil. Kuning ingin semangat dan koneksi. Hijau ingin rasa aman. Biru ingin ketepatan. Tidak ada warna yang lebih baik dari yang lain. Tim yang sehat justru butuh semuanya: ada yang mendorong, ada yang menginspirasi, ada yang menjaga, dan ada yang memastikan semuanya benar.

Kalau suatu hari kamu merasa dikelilingi orang bodoh, mungkin itu saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah mereka memang tidak paham, atau saya yang belum bicara dengan bahasa yang mereka pahami?